98
Memasuki tahun 2026, banyak dari kita merasakan kelelahan—bukan semata secara fisik, tetapi juga dalam batin. Ritme kehidupan yang semakin cepat, tuntutan yang kian kompleks, serta tekanan untuk terus beradaptasi kerap membuat kita melangkah tanpa sempat berhenti sejenak. Di tengah kesibukan itu, pertanyaan mendasar pun muncul secara perlahan: untuk apa semua ikhtiar ini dijalani?
Di titik inilah kepemimpinan menemukan maknanya yang paling jujur. Bukan pada panggung besar, bukan pada jabatan, tetapi pada niat yang sunyi—saat tak ada yang melihat, saat tak ada yang memuji.
Para pemikir besar dunia sepakat pada satu hal sederhana: kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan tentang makna.
Ketika Kerja Menjadi Panggilan
Working as Calling mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
“Mengapa saya memilih jalan ini?”
Bekerja karena panggilan bukan berarti hidup tanpa lelah. Justru sebaliknya—lelah tetap ada, tantangan tetap berat. Namun bedanya, lelah itu tidak hampa. Ada alasan untuk bertahan, ada makna untuk terus melangkah.
Orang yang bekerja karena panggilan:
-
tetap melakukan yang benar meski tak ada yang mengawasi,
-
tetap peduli meski tak pernah disebut namanya,
-
tetap hadir, bahkan saat memilih pergi terasa lebih mudah.
Ia tidak bekerja demi sorotan, tetapi demi dampak.
Tidak mengejar pengakuan, tetapi memberi kontribusi.
Ketika Memimpin Menjadi Amanah
Lead as a Trust mengingatkan kita bahwa memimpin bukan tentang mengendalikan orang lain, melainkan menjaga kepercayaan.
Pemimpin sejati adalah mereka yang:
-
menjaga nilai saat situasi menggoda untuk berkompromi,
-
melindungi martabat manusia, bahkan dalam tekanan,
-
menyiapkan masa depan, bukan sekadar mempertahankan posisi.
Ia tidak bertanya, “apa untungnya bagi saya?”
Ia bertanya, “siapa yang bisa saya angkat hari ini?”
Karena sesungguhnya, pemimpin yang hebat tidak menciptakan pengikut, tetapi menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru.
Kepemimpinan yang Dibutuhkan 2026
Tahun 2026 tidak membutuhkan lebih banyak orang yang ambisius.
Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang bermakna.
Pemimpin yang berani:
-
mendengar sebelum berbicara,
-
membimbing sebelum menilai,
-
hadir sebelum memerintah.
Ketika kerja dijalani sebagai panggilan, kelelahan berubah menjadi kehormatan.
Ketika kepemimpinan dijalankan sebagai amanah, tanggung jawab berubah menjadi kepercayaan.
Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah kepemimpinan yang tidak hanya berhasil—tetapi membekas.
Mari melangkah ke 2026 dengan satu kesadaran sederhana:
bahwa kerja kita mungkin tidak selalu terlihat,
tidak selalu dipuji,
tidak selalu dihitung dalam angka.
Namun ketika ia dijalani dengan hati,
dengan niat yang jujur,
dan dengan keberanian untuk tetap benar meski sulit,
ia akan selalu berarti.
Di tahun yang baru ini, semoga kita tidak hanya menjadi orang yang sibuk,
tetapi menjadi manusia yang hadir.
Tidak hanya mengejar hasil,
tetapi juga menjaga nilai.
Semoga kita diberi kekuatan untuk tetap peduli saat dunia menjadi dingin,
tetap rendah hati saat diberi kepercayaan,
dan tetap setia pada panggilan, bahkan ketika jalan terasa sunyi.
Karena pada akhirnya,
jabatan akan berakhir,
target akan berubah,
namun nilai yang kita hidupi, ketulusan yang kita beri, dan kehidupan yang kita sentuh
akan terus hidup—jauh melampaui masa kerja kita.
Selamat Tahun Baru 2026.
Mari melangkah dengan hati yang jernih,
bekerja dengan makna,
dan memimpin dengan amanah.
Salam, Lucy Widasari Ketua Yapscholin-Yapindo Scholar and Innovation Network-yapscholn.com Support by PT.Yapindo Jaya Abadi
