Di Balik Angka, Ada Kepemimpinan yang Bertumbuh
Di balik grafik penurunan prevalensi stunting Kabupaten Majene sepanjang 2018–2024, tersimpan pesan penting yang kerap luput dari perhatian publik: perubahan berkelanjutan tidak semata lahir dari program dan anggaran, melainkan dari kepemimpinan yang mau belajar, berintegritas, dan konsisten berpihak pada masa depan generasi.
Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Majene bergerak menurun secara bermakna. Dari angka yang sangat tinggi pada 2018 (45,8%) dan 2019 (43,7%), Majene perlahan menuruni kurva menjadi 35,7% pada 2021. Meski sempat meningkat pada 2022 (40,6%), tren kembali membaik hingga mencapai 36,7% pada 2024. Angka ini memang masih menantang, namun arah perubahannya jelas: Majene tidak stagnan, tetapi terus belajar dan berbenah.
Berangkat dari Beban Berat, Bukan Garis Start yang Sama
Jika dibandingkan dengan tren prevalensi stunting nasional—yang menurun lebih cepat dari 30,8% (2018) menjadi 19,8% (2024)—Majene jelas tidak berada pada titik awal yang sama. Kabupaten ini memulai perjalanan dari baseline yang jauh lebih berat, dengan tantangan geografis, sosial, dan keterbatasan layanan dasar yang kompleks.
Justru di sinilah nilai penting Majene. Daerah ini tidak menutup mata terhadap kenyataan, tidak menyamarkan masalah, dan tidak menjadikan data sebagai kosmetik politik. Sebaliknya, data diperlakukan sebagai cermin—kadang tidak nyaman—namun jujur untuk bercermin dan belajar.
Kepemimpinan Daerah sebagai Pengungkit Perubahan
Peran kepemimpinan daerah menjadi faktor kunci. Bupati Majene, Dr. H. Andi Achmad Syukri, S.E., M.M., bersama Wakil Bupati Majene, Dr. Hj. Andi Rita Mariani, M.Pd., secara konsisten menyampaikan arah kebijakan yang tegas: pembangunan manusia, khususnya pencegahan stunting, tidak boleh dikelola dengan pendekatan rutinitas birokrasi semata.
Stunting dipahami sebagai persoalan sistem—yang menuntut pembelajaran kolektif lintas sektor, adaptif terhadap data, terbuka terhadap koreksi, dan berorientasi pada dampak nyata bagi keluarga dan anak. Pertanyaan kebijakan tidak berhenti pada “program apa yang dijalankan?”, tetapi bergerak lebih dalam: “apa yang bisa dipelajari dari data, dari kegagalan, dan dari praktik lapangan?”
Ketika Kenaikan Angka Menjadi Alarm Pembelajaran
Kenaikan prevalensi stunting pada 2022 tidak disikapi sebagai kegagalan yang harus disembunyikan. Sebaliknya, ia diperlakukan sebagai alarm pembelajaran sistem. Respons kebijakan diarahkan pada perbaikan integrasi layanan primer, penguatan kepemimpinan puskesmas, konsistensi pendampingan keluarga berisiko stunting, serta peningkatan koordinasi lintas sektor.
Hasilnya mulai terlihat kembali pada tren penurunan 2023–2024. Ini menegaskan satu hal penting: banyak daerah gagal bukan karena tidak punya program, melainkan karena berhenti belajar ketika hasil tidak langsung terlihat.
Stunting sebagai Cermin Tata Kelola
Pengalaman Majene menunjukkan bahwa stunting bukan semata persoalan gizi atau kesehatan. Ia adalah refleksi kualitas tata kelola: bagaimana pemimpin mengambil keputusan berbasis data, membangun kepercayaan lintas sektor, dan memastikan kebijakan benar-benar menyentuh keluarga dan balita
Pesan ini relevan secara nasional. Kepemimpinan pembelajar—yang mau mendengar data, berani mengoreksi arah, dan mampu bekerja melampaui batas sektoral—merupakan fondasi utama pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Dari Program ke Organisasi Pembelajar
Kesadaran inilah yang tercermin dalam kegiatan Strategic Leadership dalam Learning Organization: Kunci Integritas Pencegahan dan Penurunan Stunting di Kabupaten Majene, yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Majene melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, bekerja sama dengan CHAMS FKM Universitas Indonesia yang memperkaya dialog antara ilmu pengetahuan dan praktik kebijakan daerah.
Bagi Majene, isu stunting dipandang sebagai cermin kualitas kepemimpinan dan tata kelola. Karena itu, pendekatan yang diambil bukan sekadar teknis kesehatan, melainkan transformasi birokrasi menuju learning organization—organisasi yang menempatkan pembelajaran berkelanjutan sebagai inti pembangunan.
Pemimpin sebagai Guru, Pelayan, dan Penjaga Integritas
Dalam organisasi pembelajar, pemimpin tidak lagi berdiri sebagai figur yang serba tahu. Ia hadir sebagai perancang arah bersama, guru yang menumbuhkan kapasitas, dan pelayan yang menjaga integritas sistem. Kepemimpinan semacam inilah yang diyakini mampu menjawab tantangan kompleks seperti stunting—yang akarnya mencakup gizi, layanan kesehatan, pola asuh, sanitasi, hingga koordinasi lintas sektor.
Forum diskusi pada 20/12/2025 dihadiri oleh Wakil Bupati Majene, kepala perwakilan BKKBN Sulawesi Barat, Rezky Murwanto.,S.Kom.,MPH, pimpinan perangkat daerah, para camat, serta kepala puskesmas se-Kabupaten Majene serta Hj.Hastuti Indriani. Kehadiran lintas sektor ini menjadi simbol kuat bahwa penurunan stunting bukan tugas satu dinas, melainkan gerakan bersama. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Dra. Hj. Yuliani, M.Adm.Pemb, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi momentum membangun ulang semangat pelayanan publik. Lebih jauh, kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari strategi pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat kepemimpinan, kerja tim, dan komunikasi aparatur daerah. Pendekatan service learning dan learning outcome digunakan agar setiap kebijakan dan program benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan semata dari rutinitas administratif.
Majene dan Inspirasi bagi Indonesia
Apa yang dilakukan Kabupaten Majene memberi pesan kuat bagi daerah lain di Indonesia: perubahan besar dapat dimulai dari keberanian untuk belajar bersama. Dengan kepemimpinan berintegritas, budaya belajar yang hidup, dan kolaborasi lintas sektor yang nyata, penurunan stunting tidak lagi sekadar target angka, melainkan gerakan pembangunan manusia.
Majene menunjukkan bahwa daerah tidak harus besar untuk memberi inspirasi. Cukup memiliki visi, kemauan untuk belajar, dan keberanian memimpin dengan nilai. Dari Majene, Indonesia belajar bahwa masa depan generasi dapat dibangun—asal kepemimpinan tidak berhenti bertumbuh bersama rakyatnya.

