Dari Tamasya Merdeka Pulau Taliabu: Ketika Anak Belajar Makan, Berinteraksi, dan Bertumbuh Bersama

Suasana di Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) Merdeka di Kabupaten Pulau Taliabu hari itu terasa berbeda. Bukan hanya karena tawa anak-anak yang berlarian, tetapi karena meja-meja makan dipenuhi percakapan hangat. Anak-anak duduk berdampingan dengan para pengasuh tamasya. Tidak ada layar gawai yang menyita perhatian. Yang ada adalah mata yang saling menatap, tangan yang saling membantu, dan kata-kata lembut yang mengalir selama waktu makan. Di ruang terbuka ini, makan tidak lagi sekadar aktivitas rutin. Ia berubah menjadi proses belajar sosial, emosional, dan kognitif.

Interaksi Anak dan Pengasuh: Makan sebagai Ruang Belajar Sosial

Waktu makan sering kali dianggap rutinitas biasa. Padahal, bagi anak—terutama bayi dan balita—makan adalah momen belajar yang sangat kaya. Cara orang dewasa berbicara, bersikap, dan merespons anak saat makan akan membentuk pengalaman makan yang terekam kuat di otak anak. Selama kegiatan berlangsung, anak-anak berinteraksi dengan pengasuh dan pendamping tamasya. Para pengasuh berperan aktif mengajak anak berbincang, mengenalkan jenis makanan, warna, rasa, dan tekstur, serta memberi contoh cara makan yang tenang dan menyenangkan.

Ketika seorang anak ragu menyentuh sayur di piringnya, pengasuh tidak memaksa. Mereka mendekat, tersenyum, lalu bertanya, “Kalau dimakan rasanya bagaimana?” Anak pun perlahan berani mencoba. Interaksi sederhana ini memberi pesan penting: anak merasa aman, dihargai, dan didukung.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip responsive feeding, di mana pengasuh merespons sinyal anak dengan empati, bukan tekanan. Melalui interaksi yang konsisten dan positif, anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang, sekaligus membangun hubungan sehat dengan makanan.

Makan Bersama yang Menguatkan Koneksi Otak Anak

Saat anak diajak mengobrol, bernyanyi ringan, atau diberi arahan sederhana seperti “kunyah pelan-pelan ya”, sebenarnya otak mereka sedang bekerja aktif. Interaksi verbal dan emosional saat makan membantu membentuk koneksi saraf yang berperan dalam kemampuan belajar, fokus perhatian, dan pengaturan emosi.Pujian yang spesifik, seperti “wah, kamu hebat bisa kunyah!”, memperkuat rasa percaya diri anak terhadap kemampuan tubuhnya. Kalimat “kalau sudah cukup, bilang stop ya” juga mengajarkan anak mengenali dan menghormati rasa kenyang.

Inilah mengapa makan bersama dengan interaksi langsung jauh lebih bermakna dibanding makan sambil menonton layar. Di Tamasya Merdeka, para pengasuh menjadi figur penting yang membantu anak tetap terlibat, merasa ditemani, dan fokus pada pengalaman makan itu sendiri.

Edukasi Makan Bergizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal

Makanan yang disajikan dalam kegiatan ini menggunakan bahan pangan lokal Pulau Taliabu. Anak-anak dikenalkan pada makanan yang sehari-hari ada di sekitar mereka—bukan makanan asing, bukan produk instan. Pengasuh menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa tubuh membutuhkan makanan yang beragam agar bisa bermain, belajar, dan tumbuh kuat. Melalui pengalaman langsung, anak belajar bahwa makan bergizi tidak harus mahal atau rumit.

Cuci Tangan Pakai Sabun: Kebiasaan Kecil yang Ditanamkan Sejak Dini

Sebelum waktu makan dimulai, anak-anak diajak untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Para pengasuh mendampingi dengan penuh kesabaran, memberi contoh secara langsung, sekaligus menjelaskan dengan bahasa sederhana mengapa kebersihan tangan sangat penting sebelum menyentuh makanan. Proses ini tidak sekadar membentuk kebiasaan bersih, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab anak terhadap kesehatan tubuhnya sendiri.

Anak yang terbiasa mencuci tangan sebelum makan memiliki risiko yang lebih rendah terhadap infeksi penyakit. Dengan tubuh yang lebih sehat, zat gizi yang dikonsumsi dapat diserap dan dimanfaatkan secara optimal, sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Mengurangi Screen Time Saat Makan

Salah satu pesan penting yang mengemuka dari kegiatan ini adalah perlunya menghindari kebiasaan makan sambil menonton layar. Para pengasuh memahami bahwa bagi sebagian anak, layar telah lama berfungsi sebagai alat penenang dan pengalih perhatian. Oleh karena itu, pendekatan yang diperkenalkan bukanlah pelarangan secara tiba-tiba, melainkan pengurangan yang dilakukan secara bertahap dan terencana.

Layar tidak serta-merta dihilangkan, tetapi perlahan dikurangi baik dari sisi durasi maupun daya tariknya. Seiring dengan itu, peran layar digantikan oleh kehadiran manusia yang nyata—pengasuh yang mengajak anak berbincang, memberikan perhatian penuh, serta makan bersama sebagai teladan. Pendekatan ini membuat anak tidak merasa kehilangan sesuatu yang penting, melainkan menemukan pengalaman baru yang lebih sehat dan bermakna.

Dalam proses ini, konsistensi menjadi kunci utama. Orang tua dan pengasuh memiliki peran yang sama penting dalam menerapkan aturan makan tanpa layar secara selaras. Anak belajar melalui pola yang berulang dan dapat diprediksi. Ketika orangtua dan pendamping menerapkan aturan yang sama, anak merasa lingkungannya aman, stabil, dan mudah dipahami.

Sebaliknya, aturan yang berubah-ubah justru memicu kebingungan dan meningkatkan risiko perilaku rewel atau tantrum. Konsistensi membantu anak membangun kebiasaan baru secara bertahap, tanpa tekanan berlebihan dan tanpa konflik yang berkepanjangan, sehingga proses makan kembali menjadi pengalaman yang positif bagi anak dan pengasuh.

Tamasya yang Menumbuhkan Masa Depan

Kegiatan makan bersama di Tamasya Merdeka Kabupaten Pulau Taliabu menunjukkan bahwa taman dan ruang publik dapat bertransformasi menjadi ruang belajar yang bermakna. Di sana, anak-anak tidak hanya diberi asupan makanan, tetapi juga dibimbing dan ditumbuhkan—dalam pemahaman tentang gizi, kebersihan diri, interaksi sosial, serta pengelolaan emosi sejak usia dini.

Dari suapan kecil, obrolan sederhana, dan perhatian yang tulus, tumbuh fondasi besar bagi masa depan anak-anak Pulau Taliabu. Karena melalui peran orangtua dan pengasuh anak usia dini di Desa Keramat, Kecamatan Taliabu Barat, generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya sedang dibentuk sejak hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *