Kanker dalam Riwayat Keluarga: Ketika Duka Mengajarkan Pentingnya Deteksi Dini

Tidak semua duka datang tiba-tiba. Ada duka yang tumbuh perlahan, dimulai dari satu diagnosis, lalu berakhir pada satu kehilangan yang tak pernah benar-benar selesai. Tiga puluh delapan tahun lalu, keluarga kami mengalaminya. Adik saya meninggal dunia setelah didiagnosis kanker ovarium ganas. Ia masih relatif muda. Saat penyakit itu dikenali, kanker sudah berkembang agresif, sementara pilihan pengobatan pada masa itu sangat terbatas.

Bahkan ketika kedua orang tua kami adalah dokter—orang-orang yang sepanjang hidupnya terbiasa melawan penyakit dengan ilmu dan ketekunan—kenyataan tetap tak dapat dibendung. Dengan seluruh pengetahuan, doa, dan ikhtiar medis yang mereka miliki, penyakit itu melaju lebih cepat daripada harapan yang sempat tumbuh. Waktu, yang seharusnya memberi ruang untuk berjuang, justru menjadi sesuatu yang paling tidak kami miliki.

Peristiwa itu bukan hanya mencatatkan kematian seorang anggota keluarga. Ia meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang: pertanyaan yang terus hidup di antara kami yang ditinggalkan. Apakah ini sekadar nasib buruk? Ataukah ada sesuatu yang luput kami pahami?

Bertahun-tahun kemudian, ilmu kedokteran memberi jawaban yang lebih jujur sekaligus lebih menenangkan. Kanker, pada sebagian keluarga, bukan sepenuhnya peristiwa acak. Riwayat keluarga memang dapat meningkatkan risiko. Namun yang diwariskan bukanlah kanker itu sendiri, melainkan kerentanan biologis—kemampuan sel tubuh yang sejak awal kurang optimal dalam memperbaiki kerusakan, mengendalikan pembelahan, dan mematikan sel yang menyimpang.

Kerentanan ini menjelaskan mengapa kanker dalam keluarga tertentu sering muncul lebih dini, lebih agresif, atau berulang lintas generasi. Tetapi di sinilah perbedaan mendasar antara risiko dan takdir. Risiko adalah peringatan. Takdir adalah kepasrahan. Kedokteran modern berdiri pada yang pertama, bukan yang kedua.

Yang jarang disadari publik adalah fakta sederhana namun penting: tubuh manusia sebenarnya melawan kanker setiap hari. Sel-sel abnormal muncul hampir setiap hari sebagai bagian alami dari kehidupan sel. Pada tubuh yang sehat, sistem imun dan mekanisme pengendali sel bekerja tanpa disadari—memperbaiki yang rusak, mematikan yang membahayakan.

Masalah muncul ketika pertahanan ini melemah. Faktor genetik memang berperan, tetapi gaya hidup sering kali menjadi pemicu utama. Merokok, pola makan buruk, obesitas, kurang aktivitas fisik, gangguan tidur, serta stres kronis bukan sekadar kebiasaan buruk—ia adalah tekanan biologis yang mempercepat kegagalan sistem pertahanan tubuh. Pada mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker, dampaknya berlipat ganda.

Di titik inilah duka pribadi berubah menjadi pelajaran publik. Kematian adik saya terjadi pada masa ketika deteksi dini kanker ovarium hampir tidak dikenal luas. Hari ini, situasinya berbeda. Pengetahuan tentang genetika kanker berkembang pesat. Skrining, deteksi dini, dan pendekatan berbasis risiko telah menjadi bagian penting dari pencegahan.

Deteksi dini bukan tentang mencari penyakit, melainkan tentang memberi waktu—waktu untuk bertindak sebelum terlambat. Ia bukan tanda kecemasan berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap tubuh sendiri dan mereka yang kita cintai.

Duka mengajarkan satu hal yang tak pernah tertulis dalam buku teks kedokteran: kehilangan paling menyakitkan adalah kehilangan yang sebenarnya bisa dicegah. Kisah keluarga kami adalah kisah kehilangan, tetapi juga pengingat. Riwayat keluarga kanker seharusnya tidak dipandang sebagai bayang-bayang yang menakutkan, melainkan sebagai sinyal kewaspadaan—kesempatan untuk bertindak lebih cepat, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab terhadap tubuh sendiri.

Hari Kanker Sedunia 4 Februari adalah momentum kemanusiaan—saat kita bersama-sama mengubah duka masa lalu menjadi perlindungan nyata bagi generasi berikutnya. Karena masa depan kesehatan tidak sepenuhnya ditentukan oleh gen yang kita warisi, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Deteksi dini bukan tentang rasa takut, melainkan tentang keberanian—keberanian untuk menjaga hidup sebelum sakit datang. Di sanalah pencegahan bekerja. Dan di sanalah harapan benar-benar tumbuh.

Kanker mengajarkan satu pelajaran penting: masa depan kesehatan tidak sepenuhnya ditentukan oleh gen yang kita warisi, melainkan oleh pilihan yang kita buat setiap hari. Pilihan untuk peduli pada tubuh sendiri. Pilihan untuk tidak menunda pemeriksaan. Pilihan untuk hidup lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.

Pencegahan tidak bekerja ketika kita sudah jatuh sakit, melainkan bekerja ketika kita berani memeriksa diri saat masih merasa sehat. Di saat itulah deteksi dini memiliki maknanya yang paling besar—menyelamatkan nyawa, mengurangi penderitaan, dan memberi harapan yang nyata, bukan sekadar janji.

Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis (CKG) yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pemeriksaan kesehatan mungkin tampak sebagai langkah kecil, tetapi dampaknya sangat besar: mengenali risiko lebih awal, menemukan penyakit sebelum terlambat, dan memberi kesempatan hidup yang lebih panjang dan lebih berkualitas.

Datanglah. Periksakan diri Anda. Ajak orang tua, pasangan, saudara, dan sahabat yang Anda cintai. Jadikan kepedulian hari ini sebagai bentuk kasih sayang yang paling sederhana, namun paling berarti—hadiah untuk masa depan mereka dan diri kita sendiri.

Karena di sanalah pencegahan bekerja dan di sanalah harapan benar-benar tumbuh.

Ya Allah, bila rindu ini tak mampu kami sampaikan pada manusia, maka kami titipkan seluruhnya kepada-Mu.
Peluklah adikku, Rahmanita Suriasari (Tita), dengan kasih sayang-Mu yang tak pernah bertepi.
Jika jarak memisahkan kami di dunia, maka jangan pisahkan kami di akhirat.
Satukan kembali hati-hati yang saling mencinta ini dalam ridha-Mu dan dalam surga-Mu.
Aamiin YRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *