Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari bukan sekadar pengingat global tentang ancaman penyakit, melainkan sebuah ajakan moral bagi setiap daerah untuk melindungi generasi masa depannya. Dunia kesehatan sepakat bahwa sebagian besar kanker tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang perlahan dari kebiasaan hidup yang terbentuk sejak usia dini. Karena itu, pencegahan kanker sesungguhnya dimulai jauh sebelum seseorang jatuh sakit, melalui pilihan hidup yang sehat dan lingkungan yang mendukung.
Di Pulau Taliabu, pesan global ini menemukan makna lokal yang sangat kuat. Dikelilingi alam yang masih asri, udara laut yang relatif bersih, serta ikatan sosial masyarakat yang erat, Taliabu memiliki modal besar untuk membangun generasi yang lebih sehat dan bebas kanker. Pencegahan tidak harus selalu dimulai di rumah sakit atau fasilitas kesehatan rujukan, melainkan tumbuh dari rumah, taman asuh, pola pengasuhan, dan kebijakan daerah yang berpihak pada anak dan keluarga.
Lingkungan rumah tanpa asap rokok adalah salah satu bentuk perlindungan paling mendasar. Tidak adanya paparan asap tembakau bukan hanya menjaga kesehatan paru-paru anak hari ini, tetapi juga menurunkan risiko kanker di masa depan. Ketika anak-anak Taliabu tumbuh tanpa rokok di sekelilingnya, tubuh kecil mereka belajar bernapas dengan sehat, sistem imunitas berkembang optimal, dan fondasi kesehatan jangka panjang pun terbentuk dengan kuat.
Fondasi tersebut semakin kokoh ketika didukung oleh pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup. Prinsip ini tercermin dalam praktik pengasuhan di TAMASYA Merdeka, tempat anak-anak dikenalkan pada sayur, buah, ikan, serta pangan lokal bergizi, sambil bergerak aktif melalui permainan yang ceria. Dari sudut pandang ilmu gizi anak, kebiasaan ini bukan hanya mencegah kelebihan berat badan, tetapi juga berperan penting dalam menurunkan risiko kanker di usia dewasa melalui pengendalian peradangan kronis dan keseimbangan metabolik sejak dini.

Foto: Keceriaan anak-anak di Tamasya Merdeka, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu
Pesan pencegahan kanker juga tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ibu dan bayi. Menyusui, sebagaimana ditekankan dalam pesan edukasi WHO, bukan hanya ikatan kasih antara ibu dan anak, tetapi merupakan perlindungan biologis yang terbukti menurunkan risiko kanker pada ibu. Di sisi lain, imunisasi hepatitis B dan HPV merupakan langkah efektif dalam mencegah kanker hati dan kanker serviks di masa depan. Kebijakan kesehatan yang mendorong dua intervensi ini sejatinya adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya baru akan terlihat puluhan tahun kemudian, namun dampaknya sangat besar bagi kualitas hidup masyarakat.
Di luar faktor individu dan keluarga, terdapat pula risiko kanker yang sering luput dari perhatian, yaitu polusi udara dan konsumsi alkohol. Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat strategis. Menjaga kualitas lingkungan, mengedukasi masyarakat, serta menciptakan ruang hidup yang sehat merupakan wujud kepemimpinan visioner. Kabupaten Pulau Taliabu memiliki peluang besar untuk menjadi contoh daerah kepulauan yang membangun kesehatan masyarakat bukan semata melalui pengobatan, tetapi melalui pencegahan yang berkelanjutan dan berpihak pada generasi mendatang.
Apa yang dilakukan hari ini akan menentukan wajah kesehatan Taliabu 20 hingga 30 tahun ke depan. Anak-anak yang diasuh dengan penuh cinta, diberi gizi seimbang, dilindungi dari faktor risiko kanker, dan tumbuh di lingkungan yang aman seperti TAMASYA Merdeka, adalah generasi yang kelak akan mengurangi beban kanker, meningkatkan produktivitas daerah, dan membawa nama Taliabu dengan bangga.
Oleh karena itu, Hari Kanker Sedunia 4 Februari 2026 menjadi momentum emas bagi Kabupaten Pulau Taliabu untuk menyatakan kepada Indonesia dan dunia bahwa daerah kepulauan pun mampu menjadi pelopor pencegahan kanker sejak usia dini. Dari tawa anak-anak di taman asuh yang sederhana, sesungguhnya kita sedang menanam harapan besar: Taliabu yang sehat, kuat, dan bebas kanker di masa depan.
