Home  /  Artikel  /  Dari Kaki Gunung Tidar, Menyalakan Mimpi dan Menggerakkan Perubahan

Dari Kaki Gunung Tidar, Menyalakan Mimpi dan Menggerakkan Perubahan

account-circleDr.dr.Lucy Widasari.,MSi
calendar-month06 November 2026
clock-time-three4 menit baca
comment2 komentar
eye-circle226

Saya tumbuh dalam keluarga tentara yang sederhana di Panca Arga, kaki Gunung Tidar, Magelang. Dari keluarga kecil inilah saya mengenal arti kedisiplinan, kesederhanaan, ketekunan, dan kerja keras. Orang tua saya mengajarkan bahwa kekayaan yang paling berharga bukanlah materi, melainkan pendidikan, kejujuran, dan semangat pantang menyerah. Dalam kesederhanaan itu, saya belajar menggantungkan mimpi setinggi mungkin, meskipun langkah harus dimulai dari hal-hal kecil.

Saya memulai perjalanan pengabdian sebagai dokter di salah satu rumah sakit tentara di Jakarta, sekaligus menjalankan peran sebagai dosen dalam mendidik dan membimbing calon dokter serta tenaga kesehatan. Dua dunia ini mengajarkan saya bahwa pendidikan dan pengabdian bukanlah dua jalan yang terpisah, melainkan dua langkah yang saling menguatkan. Di rumah sakit, saya belajar tentang arti kepedulian dan nilai kehidupan; di ruang kelas, saya belajar bahwa setiap ilmu yang dibagikan dapat menumbuhkan harapan dan membentuk masa depan seseorang.

Perjalanan menempuh pendidikan doktoral membawa saya hingga ke pelosok Indonesia Timur. Di tengah kesibukan melakukan penelitian dan memperdalam ilmu pengetahuan, saya menemukan kesempatan yang begitu berharga untuk berbagi harapan. Melalui Kelas Inspirasi Banggai, saya hadir di tengah anak-anak sekolah dasar, bukan sekadar memperkenalkan profesi dokter, tetapi juga menumbuhkan keberanian mereka untuk bermimpi dan bercita-cita tinggi. Melihat mata mereka berbinar penuh harapan, saya tersadar bahwa di balik kesederhanaan dan keterbatasan, tersimpan begitu banyak mimpi besar yang menunggu untuk diberi kesempatan.

Langkah pengabdian saya terus berkembang melalui pendampingan perempuan, peningkatan kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, serta pemberdayaan keluarga. Kesempatan untuk berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting di  Sekretariat Wakil Presiden pada tahun 2021, yang kemudian berlanjut melalui keterlibatan dalam program percepatan penurunan stunting di BKKBN, semakin memperluas pemahaman saya bahwa persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja bersama, kepedulian, dan komitmen yang berkelanjutan, dari tingkat kebijakan hingga keluarga di pelosok negeri.

Bagi saya, ilmu pengetahuan akan semakin bermakna ketika melahirkan karya, mempertemukan berbagai keahlian, dan menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat melalui yapindo scholar and innovator network (yapscholn). Saya percaya, ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan kesempatan untuk berkembang, ia tidak hanya mengubah kehidupannya sendiri, tetapi juga membuka masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan dari kaki Gunung Tidar dan ruang-ruang kelas sederhana kelak membawa saya bersama KOWANI dan Pita Putih Indonesia hingga ke Markas Besar PBB di New York, menyuarakan kepentingan kesehatan dan keselamatan perempuan, ibu, dan anak.

Pada 1 November 2026, saya bersyukur terpilih menjadi tiga besar Anugerah Perempuan Indonesia Kreatif Award 2026 kategori Perempuan Pendidik dan Penggerak, dalam ajang yang menghadirkan 61 perempuan inspiratif dari berbagai penjuru Indonesia di Hotel Atria Magelang. Kembali ke Magelang untuk menerima apresiasi ini memiliki makna tersendiri bagi saya. Dari kota tempat mimpi saya bermula, saya semakin menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dijalani dengan kesungguhan dapat membawa kita menuju kesempatan yang tidak pernah terbayangkan.

Melalui perjalanan ini, saya ingin mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus percaya pada mimpi dan kekuatan dirinya. Jangan pernah merasa langkah kita terlalu kecil, asal kita tidak berhenti melangkah. Jangan biarkan keterbatasan memadamkan harapan, dan jangan biarkan kesulitan meruntuhkan keberanian. Teruslah belajar, bekerja keras, dan berani mengambil kesempatan, karena setiap perjuangan yang dijalani dengan ketekunan akan membawa kita semakin dekat pada tujuan. Pendidikan memberi kita sayap untuk terbang lebih tinggi, sementara pengabdian mengajarkan kita untuk tetap berpijak pada kepedulian. Jadilah perempuan yang tidak hanya berani bermimpi dan meraih keberhasilan, tetapi juga mampu menggandeng, menguatkan, dan membuka jalan bagi perempuan lainnya.

Bagi saya, penghargaan bukanlah puncak perjalanan, melainkan amanah untuk terus melangkah, berkarya, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Saya percaya, keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak penghargaan yang kita terima, tetapi dari seberapa banyak harapan yang mampu kita nyalakan, kehidupan yang kita sentuh, dan kesempatan yang kita bukakan bagi orang lain.

Kita tidak harus memulai dari tempat yang besar untuk menghadirkan perubahan besar. Teruslah maju, teruslah melangkah, dan jangan pernah berhenti memberi manfaat. Karena satu perempuan dapat menyalakan harapan, tetapi perempuan yang saling menguatkan mampu menggerakkan masa depan Indonesia.

 

2 responses to “Dari Kaki Gunung Tidar, Menyalakan Mimpi dan Menggerakkan Perubahan”

  1. Emiliana Tiska, S.Pd says:

    Congratulation and celebrate🥳
    to Dr.dr Lucy Widasari, M.Si atas prestasinya, smoga selalu diberikan kesehatan agar bisa selalu menebar ilmunya sebagai perempuan pendidik dan penggerak. Amin.

  2. Terima kasih couch Emily…kapan gym online lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *