Home  /  Artikel  /  Dinkes–Yapscholn Bersinergi, Taliabu Bangkit Pascakarhutla

Dinkes–Yapscholn Bersinergi, Taliabu Bangkit Pascakarhutla

account-circleDr.dr.Lucy Widasari.,MSi
calendar-month14 October 2026
clock-time-three5 menit baca
comment0 komentar
eye-circle27

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghanguskan pepohonan dan perkebunan, tetapi juga meninggalkan ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Di balik kepulan asap dan lahan yang terbakar, terdapat risiko gangguan pernapasan, tekanan psikologis, terganggunya ketahanan pangan, hingga ketidakpastian penghidupan keluarga.

Bagi masyarakat Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, dampak tersebut menjadi tantangan tersendiri. Karakteristik wilayah kepulauan, ketergantungan sebagian masyarakat pada hasil perkebunan, serta kebutuhan pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau kelompok rentan menuntut penanganan bencana yang tidak hanya cepat, tetapi juga terpadu dan berkelanjutan.

Merespons tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu berkolaborasi dengan Yapindo Scholar and Innovator Network (yapscholn), dengan dukungan Perempuan Laju Perkasa (PLP), menyelenggarakan edukasi dan pendampingan kesehatan pascakarhutla secara virtual pada Selasa (13/10/2026).

Kegiatan yang dibuka oleh Ibu Hetty Andika Perkasa, Ketua Perempuan Laju Perkasa, bertujuan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi dampak karhutla, sekaligus mendorong perubahan pendekatan dari penanganan penyakit akut menuju perlindungan kesehatan dan pemulihan ketahanan masyarakat.

Ketika Asap Mengancam Kesehatan, Kelompok Rentan Menjadi Prioritas

Asap karhutla bukan sekadar udara yang mengganggu kenyamanan. Di dalamnya terkandung campuran partikel halus dan gas berbahaya, termasuk PM2,5, yakni partikel berdiameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang mampu mencapai bagian terdalam paru-paru.

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Paparan polusi partikulat juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.

Ancaman karhutla terutama mengintai kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, penderita penyakit kronis, penyandang disabilitas, dan pekerja luar ruangan. Karena itu, tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini, perlindungan kelompok rentan, edukasi pencegahan, serta memastikan akses pelayanan dan rujukan yang cepat dan tepat.

Luka yang Tak Terlihat: Ketika Kebakaran Mengguncang Kesehatan Mental dan Penghidupan

Namun, ancaman karhutla tidak berakhir ketika asap mulai menghilang.

Bagi keluarga petani yang kehilangan kebun cengkeh atau sumber penghasilan, kebakaran bukan sekadar kerusakan lingkungan. Peristiwa tersebut dapat mengguncang ketahanan ekonomi, menimbulkan ketidakpastian masa depan, sekaligus memengaruhi kesejahteraan psikologis seluruh anggota keluarga.

Rasa takut, kecemasan, kesedihan, dan gangguan tidur merupakan respons yang dapat muncul setelah bencana. Pada sebagian penyintas, tekanan psikologis yang berat atau berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi maupun gangguan stres pascatrauma yang membutuhkan penanganan profesional.

Dalam konteks inilah, edukasi kesehatan mental menjadi bagian penting dari pemulihan pascakarhutla. Tenaga kesehatan diperkenalkan pada pendekatan Psychological First Aid (PFA) melalui tiga prinsip utama: Look, memastikan keamanan dan mengenali kebutuhan penyintas; Listen, mendengarkan secara empatik tanpa menghakimi; serta Link, menghubungkan masyarakat dengan dukungan keluarga, layanan kesehatan, dan bantuan sosial yang dibutuhkan.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pemulihan psikologis tidak dapat dipisahkan dari rasa aman, dukungan keluarga, dan keberlanjutan penghidupan. Masyarakat tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan dari bencana. Mereka juga perlu didampingi agar mampu kembali menjalani kehidupan dengan sehat, aman, dan penuh harapan.

Yapscholn: Menjembatani Ilmu Pengetahuan dengan Kebutuhan Nyata Masyarakat

Melalui kegiatan ini, yapscholn sebagai wadah kolaborasi akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia menghadirkan pendekatan keilmuan lintas disiplin untuk memperkuat respons kesehatan pascakarhutla.

Edukasi menghadirkan Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si., dosen Program Magister Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan; Dr. Ernyasih, S.K.M., M.K.M., Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta; serta Marella Ardelia Sulistyorini, S.Psi., mahasiswa Pendidikan Profesi Psikolog Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Kehadiran ketiga narasumber mempertemukan perspektif kesehatan masyarakat, dampak lingkungan terhadap kesehatan, kesiapsiagaan bencana, dan pendampingan psikologis dalam satu kerangka pemulihan terpadu.

Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, deteksi dini kelompok rentan, pendampingan psikososial, serta pengembangan riset dan inovasi sesuai kebutuhan daerah. Melalui yapscholn, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi diwujudkan menjadi aksi nyata, solusi berdampak, dan harapan baru bagi kesehatan masyarakat Taliabu.

Dari Edukasi Menuju Aksi, dari Pemulihan Menuju Ketahanan

Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi yang menyatukan kepedulian, keahlian, dan aksi nyata. Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu memperkuat pelayanan melalui jejaring Puskesmas, sementara Yapscholn menjembatani ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Bersama, kolaborasi ini diharapkan mampu melindungi kesehatan, mempercepat pemulihan, dan membangun Taliabu yang lebih tangguh menghadapi bencana.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi kemitraan strategis yang melahirkan program nyata, terukur, dan berkelanjutan, dengan fokus pada perlindungan kelompok rentan, deteksi dini gangguan kesehatan, pemulihan psikososial, serta penguatan sistem kesiapsiagaan daerah.

Keberhasilan pemulihan pascabencana bukan diukur dari banyaknya kegiatan atau bantuan yang diberikan, melainkan dari masyarakat yang kembali sehat, keluarga yang bangkit, dan kehidupan yang kembali pulih. Inilah makna ketahanan kesehatan sejati: bukan sekadar bertahan menghadapi bencana, tetapi memastikan setiap keluarga terlindungi, didampingi, dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Tenaga Kesehatan, Penjaga Kehidupan dan Harapan Taliabu

Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya, tenaga kesehatan Pulau Taliabu memegang peran yang tidak tergantikan. Setiap kunjungan ke rumah warga, setiap anak yang diperiksa, setiap ibu hamil yang dilindungi, dan setiap keluarga yang didengarkan dengan empati merupakan bagian dari pengabdian yang jauh melampaui pelayanan medis.

Tenaga kesehatan bukan hanya hadir ketika masyarakat sakit, tetapi juga menjadi penghubung antara pengetahuan, pertolongan, dan harapan untuk kembali bangkit.

“Api boleh padam, tetapi pengabdian tidak boleh berhenti. Ketika lahan terbakar, tenaga kesehatan hadir menjaga kehidupan. Ketika keluarga diliputi kecemasan, ilmu pengetahuan dan kepedulian menjadi kekuatan untuk kembali bangkit.”

Melalui sinergi Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu, yapscholn, dan dukungan Perempuan Laju Perkasa, semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama yang menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

“Dari Taliabu, kita belajar bahwa ketika bencana merenggut penghidupan, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi juga kepedulian dan uluran tangan. Karena di tengah kehilangan, selalu ada harapan yang tumbuh ketika kita saling menjaga, saling menguatkan, dan tak membiarkan siapa pun berjuang sendirian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *